Senin, 07 Maret 2011

Dua kesaksian Seorang Muslim



DUA KESAKSIAN UTAMA SEORANG MUSLIM(1)
Oleh : ASMARDI MISBAH, S.Ag, M.Si

A’uzubillahiminasyaithanirrajiim…
Bismillahirrahmaanirrahiim…

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahi nahmaduhu  wanasta’inuhu wanastaghfiruhu,
Ashadu alla ila haillallahu wahdahu lasarikalahu, waashadu anna muhammadan ‘abduhu warasuluhu. La nabi ya ba’dah…!
Allahumma sholli wassalim wabarik ‘ala syaiyidina muhammadin wa’ala alihi wa ashabihi, wa auladihi, wazuriyyatihi Rasulillahi ajma’in. Amma ba’du…!
Faya ‘ibadallahi, usikum wanafsi bitaqwallahi faqad fazalmuttaquuna…!
Qalallahuta’alafilqur’anilkarim…!

             Artinya: “Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."(QS. 112 (Al-Ikhlas) : 1-4)

Ma’asiral Muslimin wal Muslimat rahimakumullah, Pendengar RRI Tanjungpinag yang mulia…!
Disa’at yang penuh rahmad dan keberkahan ini, kita sebagai hamba Allah SWT yang beriman dan bertaqwa, tiadalah kata  yang pantas kita ucapkan, kecuali melisankan kalimat Alhamdulillah, wasyukurillah, segala puji bagi Allah, zat yang maha pengasih lagi maha pemurah, yang telah mencurahkan kasih dan sayang-Nya yang tidak mampu dihitung dan dipilah, kepada kita bersama secara utuh dan sempurna lahir dan bathin melimpah, diantaranya adalah nikmat iman, Islam dan kesehatan yang tiada bermasalah. Harapan kita, semoga segala macam nikmat termaksud dapatlah hendaknya kita manfa’atkan secara sempurna sesuai dengan keinginan kita selaku makhluk Allah yang dha’if dan salah tingkah, yang tentunya tidaklah bertentangan dengan ketetapan Allah ataupun risalah sari’ah, baik yang termaktup di dalam Al-Qur’anilkarim maupun yang tertuntun di dalam Al-hadis baginda Rasulullah saw pembawa berkah. Aaamiin….aaamiin yaa  Rab bal’alamiin…!
Tiada pula hadiah yang pantas kita peruntukan buat junjungan alam, Banginda Rasulullah saw, beserta  keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang setia mengerjakan amal shalih dan shalihah hingga ke akhir zaman. Kecuali dengan sebuah untaian kalimat thaiyibah “Allahumma shalli’ala syaiyidina muhammadin wa’ala ali syaiyidina Muhammad” Semoga dengan kalimat thaiyibah yang simple dan singkat termaksud dapatlah hendaknya mengantarkan kita ke hadapan Allah SWT untuk dapat membuka tabir keridhaan-Nya atas segala macam perbuatan kita, sehingga bermanfa’at untuk kehidupan kita di dunia dan di akhirat kelak. Aaamiin…aaamiin ya mujibassa iliin.
Ma’asiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah, Pendengar RRI Tanjungpinang  yang berbahagia…!
Judul renungan singkat kita dalam pembahasan “Dua Kesaksian Utama Seorang Muslim” pada bahagian pertama di sa’at yang penuh berkah ini, ialah: “Kesaksian Seorang Muslim Kepada Allah SWT”.  Ada dua kesaksian utama yang harus dimiliki oleh seorang muslim, yang merupakan dua kesaksian yang paling mendasar, yaitu: mengucap dua kalimah sahadat:
 “Asy-hadu alla illaaha illallah wa-asy hadu anna muhammadar rasulullah”
 Artinya:”Saya bersaksi tidak adak Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah”
 Dari dua kalimah sahadat termaksud, dapatlah kita pahami bahwa dua kesaksian yang harus kita sadari dan pahami dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Yang apabila kita jalankan dengan baik dan benar sesuai dengan ketentuan yang berlaku, maka sudah barang tentu akan mengantarkan keselamatan bagi kehidupan kita, akan tetapi sabaliknya apabila semua itu kita abaikan dan bahkan kita tentang, maka tentunya akan mencelakakan kita. Dua kesaksian termaksud, ialah: Kesaksian seorang muslim kepada Allah SWT dan kepada Rasulullah saw.
Pada kesempatan yang mulia ini kita akan membahas bahagian pertama, yaitu:”Kesaksian seorang muslim Kepada Allah SWT.
1.Kesaksian kita kepada Allah SWT,
     Maksudnya ialah kita meyakini bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah SWT. Sebagai seorang muslim, kita sudah bersaksi bahwa Kepada Allah SWT lah tempat kita berlindung dan meminta, maka sedikitnya ada dua hal yang harus kita pahami, yaitu:
a.Manusia dijadikan sebagai Abdi Allah SWT.
Kita harus mengakui bahwa, dijadikan-Nya manusia sebagai khalifah di muka bumi ini, adalah untuk menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah SWT baik diwaktu susah maupun senang. Bukan pula bertujuan untuk mengejar kekayaan, jabatan, tahta dan kekuasaan dunia semata dengan mengabaikan perintah dan larangan Allah SWT. Untuk itu Mari kita pahami firman Allah SWT yang berbunyi:
Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”(QS. (51) Az-Zariyyat: 56)

Ma’asiral Muslimin wal Muslimat yang diberkahi Allah SWT, Pendengar RRI Tanjungpinang yang mulia…!
b. Hidup dan matinya Manusia Karena Allah SWT
     Kita harus mampu memahami bahwa sebagai khalifah di muka bumi ini, kita semuanya dituntut dan diminta pertanggung jawaban atas segala macam amal yang kita perbuat selama hidup di hamparan bumi yang fana ini.Jika amal kita sesuai dengan tuntunan Al-qur’an dan Al-hadis, maka Allah SWT akan memasukan kita kesuatu tempat yang mulia, yang bernama syurga. Namun  sebaliknya, apabila  amal perbuatan kita bertentangan dengan Al-Qur’an dan Al-hadis, maka kita akan dimasukan kesuatu tempat yang penuh kesengsaraan yang diberi nama neraka.
     Oleh karenanya, sebelum ajal menjemput kita, marilah kita kembali kepada tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadis baginda Rasulullah saw. Sebab Sebagai seorang muslim, kita telah bersaksi bahwa setiap makhluk hidup yang ada di alam ini pasti akan mengalami kematian, tidak terkecuali makhluk yang bernama manusia. Untuk itu mari kita pahami firman Allah SWT yang berbunyi:

              Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.(QS.Ali Imran:185)

     Ma’asiral Muslimin wal Muslimat, Pendengar RRI Tanjungpinang yang mulia…!

     Demikian renungan singkat kita kali ini,semoga berguna dan bermanfa’at adanya, aaamin-aaamin ya Rabbal’alamin. Lebih dan kurang saya mohon ampun dan ma’af. Subhanakallah humma anta wabihamdika astagfiruka wa atu builaik, walhamdulillah hirabbil’alamin. Usikum wanafsi waiya yabitaqwallah, billahi taufiq walhidayah, Wassalamu’alaikum Wr,- Wb,-




DUA KESAKSIAN UTAMA SEORANG MUSLIM(2)
Oleh : ASMARDI MISBAH, S.Ag, M.Si

A’uzubillahiminasyaithanirrajiim…
Bismillahirrahmaanirrahiim…

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahi nahmaduhu  wanasta’inuhu wanastaghfiruhu,
Ashadu alla ila haillallahu wahdahu lasarikalahu, waashadu anna muhammadan ‘abduhu warasuluhu. La nabi ya ba’dah…!
Allahumma sholli wassalim wabarik ‘ala syaiyidina muhammadin wa’ala alihi wa ashabihi, wa auladihi, wazuriyyatihi Rasulillahi ajma’in. Amma ba’du…!
Faya ‘ibadallahi, usikum wanafsi bitaqwallahi faqad fazalmuttaquuna…!
Qalallahuta’alafilqur’anilkarim…!
 
             Artinya: “Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."(QS. 112 (Al-Ikhlas) : 1-4)

Ma’asiral Muslimin wal Muslimat rahimakumullah, Pendengar RRI Tanjungpinag yang mulia…!
Disa’at yang penuh rahmad dan keberkahan ini, kita sebagai hamba Allah SWT yang beriman dan bertaqwa, tiadalah kata  yang pantas kita ucapkan, kecuali melisankan kalimat Alhamdulillah, wasyukurillah, segala puji bagi Allah, zat yang maha pengasih lagi maha pemurah, yang telah mencurahkan kasih dan sayang-Nya yang tidak mampu dihitung dan dipilah, kepada kita bersama secara utuh dan sempurna lahir dan bathin melimpah, diantaranya adalah nikmat iman, Islam dan kesehatan yang tiada bermasalah. Harapan kita, semoga segala macam nikmat termaksud dapatlah hendaknya kita manfa’atkan secara sempurna sesuai dengan keinginan kita selaku makhluk Allah yang dha’if dan salah tingkah, yang tentunya tidaklah bertentangan dengan ketetapan Allah ataupun risalah sari’ah, baik yang termaktup di dalam Al-Qur’anilkarim maupun yang tertuntun di dalam Al-hadis baginda Rasulullah saw pembawa berkah. Aaamiin….aaamiin yaa  Rab bal’alamiin…!
Tiada pula hadiah yang pantas kita peruntukan buat junjungan alam, Banginda Rasulullah saw, beserta  keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang setia mengerjakan amal shalih dan shalihah hingga ke akhir zaman. Kecuali dengan sebuah untaian kalimat thaiyibah “Allahumma shalli’ala syaiyidina muhammadin wa’ala ali syaiyidina Muhammad” Semoga dengan kalimat thaiyibah yang simple dan singkat termaksud dapatlah hendaknya mengantarkan kita ke hadapan Allah SWT untuk dapat membuka tabir keridhaan-Nya atas segala macam perbuatan kita, sehingga bermanfa’at untuk kehidupan kita di dunia dan di akhirat kelak. Aaamiin…aaamiin ya mujibassa iliin.
Ma’asiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah, Pendengar RRI Tanjungpinang  yang berbahagia…!
Judul renungan singkat kita dalam pembahasan “Dua Kesaksian Utama Seorang Muslim” pada bahagian kedua di sa’at yang penuh berkah ini, ialah: “Kesaksian Seorang Muslim Kepada Rasullah saw”.  Ada dua kesaksian utama yang harus dimiliki oleh seorang muslim, yang merupakan dua kesaksian yang paling mendasar, yaitu: mengucap dua kalimah sahadat:
 “Asy-hadu alla illaaha illallah wa-asy hadu anna muhammadar rasulullah”
 Artinya:”Saya bersaksi tidak adak Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah”
 Dari dua kalimah sahadat termaksud, dapatlah kita pahami bahwa dua kesaksian yang harus kita sadari dan pahami dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Yang apabila kita jalankan dengan baik dan benar sesuai dengan ketentuan yang berlaku, maka sudah barang tentu akan mengantarkan keselamatan bagi kehidupan kita, akan tetapi sabaliknya apabila semua itu kita abaikan dan bahkan kita tentang, maka tentunya akan mencelakakan kita. Dua kesaksian termaksud, ialah: Kesaksian seorang muslim kepada Allah SWT dan kepada Rasulullah saw.
Pada kesempatan yang mulia ini kita akan membahas bahagian kedua sebagai kelanjutan dari pembahasan nkita diberapa sa’at yang lalu, yaitu:”Kesaksian seorang muslim Kepada Rasulullah saw.
1.Kesaksian kita kepada Rasulullah saw,
     Maksudnya ialah kita meyakini bahwa tiada Rasul yang wajib dan patut kita jadikan panutan dalam hidup dan kehidupan ini, kecuali mengikuti ajaran dan risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw. Sebagai seorang muslim, kita sudah bersaksi bahwa Nabi Muhammad Rasulullah saw lah yang pantas kita jadikan suri tauladan dalam hidup dan kehidupan ini.Perintah dan ajarannyalah yang patut kita lakukan supaya tercapai suatu keselamatan hidup di dunia dan di akhirat kelak.Oleh karenanya paling tidak ada tiga kesaksian yang harus kita pahami terhadap kerasulan Baginda Rasulullah saw, yaitu:

a.Memahami Keberadaan Akhlak Rasulullah saw
     Sebagai seorang muslim, runutan akhlak yang harus kita contoh dan ikuti adalah Rasulullah saw. Misi yang terbesar dalam kehidupan baginda rasulullah saw adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Hal ini dipertegas Rasulullah saw di dalam sebuah sabdanya yang berbunyi:

     Innamaa bu’istu liutim mimma makaarimal akhlaq

     Artinya:” Sesungguhnya saya diutus tidak lain hanyalah untuk menyempurnkan budi pekerti yang mulia” (Al-Hadis)

b. Memahami Keteladanan Rasulullah saw
     Sebagai seorang muslim kita harus mampu memahami bahwa pada diri Rasulullah saw itu ada suri tauladan yang yang mulia yang harus kita contoh dan ikuti dalam menjalankan hidup dan kehidupan di hamparan dunia yang fana ini. Hal ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’anilkarim yang berbunyi:

     Artinya: “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS. Al-Ahzab (33) :21)


C. Memahami Keberadaan Rasulullah saw Penyelemat Alam
     Sebagai seorang muslim, kita harus yakin bahwa keberadaan baginda Rasulullah saw sebagai Rasul terakhir adalah pembawa keselamatan untuk alam semesta yang penuh fata murgana ini. Hal ini dijelaskan oleh Allah SWt melalui firman-Nya yang berbunyi:

     Artinya: “Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhamammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS. Al-Ambiya’ 107)

     Ma’asiral Muslimin wal Muslimat rahima kumullah, pendengar RRI tanjungpinang yang mulia…!

     Demikian renungan singkat kita kali ini,semoga berguna dan bermanfa’at adanya, aaamin-aaamin ya Rabbal’alamin. Lebih dan kurang saya mohon ampun dan ma’af. Subhanakallah humma anta wabihamdika astagfiruka wa atu builaik, walhamdulillah hirabbil’alamin. Usikum wanafsi waiya yabitaqwallah, billahi taufiq walhidayah, Wassalamu’alaikum Wr,- Wb,-



Dua kesaksian Seorang Muslim

Asmardi Misbah dimasa SLTA
Add caption

Selasa, 11 Januari 2011

Menanamkan jiwa taqwa dalam jiwa anak


MENANAMKAN JIWA TAQWA KEPADA ANAK-(1)
OLEH ; ASMARDI MISBAH, S.Ag, M.Si

A’u zubillahiminasyaithonirrajiim...
Bismillaahirrahmaanirraahiim...

Assalamu’alaikum Wr.- Wb.-

Alhamdulillah… Alhamdulillahillazi, ‘an askuroo ni’matakallati an’am ta’alaina, wa’ala walidina, wa an a’malaso  lihan tardhohu,  wa adhilni birohmatika fi’iba dikasshoolihiin.

Ashaduallaa ilaa haillallaah,  wahdahu laa sarikalah, wa ashadu anna Muhammadan ‘abduhu warosuluh, la Nabi yaba’dah...!

Allahummasholli‘alaa   sayyidinaa   muhammadin   sholaatan   tuwassi’u   bihaa arzaaq, Watuhassinu bihaa lanal akhlaaq, wa’alaa aalihii washahbihii wa sallim,..
Ammaa ba’du...!
Qolallahuta’ala fil Qur’anulkariim...
     Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu Mengetahui. Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”.(QS. Al-Anfal:27-28)



     Ma’asiral Muslimin wal Muslimat Rahima kumullah, Pendengar RRI Tanjungpiang yang mulia…!

     Manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah di muka memikul amanah yang cukup banyak, satu diantaranya yang paling besar a yang harus kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT adalah anak cucu keturunan kita. Mereka adalah titipan Allah SWT yang harus kita jaga dengan baik dan sungguh-sungguh  sesuai dengan ketetapan Allah SWT.
     Dewasa ini  sering kita jumpai baik dalam lingkungan kehidupan kita maupun melalui mass  media mengenai kasus-kasus yang memprihatinkan, seperti mabuk-mabukan, perjudian, pergaulan bebas antar lawan jenis, perkelahian antar geng dan tindakan kriminal lainnya. Ya Allah, betapa panasnya dunia dewasa ini. Akankah terus berkembang dan meraja rela di mana-mana  kasus-kasus semacam itu? Bagaimana kalau anak cucu keturunan kita terlibat dalam kasus-kasus yang memprihatinkan itu? Siapakah yang salah, kita atau anak cucu keturunan kita? Oleh karenanya sangatlah pantas hal termaksud menjadi renungan kita  bersama, sehingga kita tidak merasa masa bodoh dalam menjaga amanat yang diberikan Allah SWT.
Untuk itu mari kita fahami firman Allah SWT yang berbunyi:
Ÿž
        Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu Mengetahui. Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”.(QS. Al-Anfal:27-28)

      Ma’asiral Muslimin wal Muslimat rahimakumullah…! Pendengar RRI Tanjungpinang yang mulia…!

Demikianlah renungan singkat kita sa’at ini, semoga bermanfa’at dan berdaya gunaadanya bagi kita bersama. Aaamii- aaamiin ya mujibas sa ilin. Lebih dan kurang saya mohon ampun dan ma’af. Subha nakallah humma anta wabihamdika astaghfiruka wa atau builaik walhamdulillahirabbil’alamiin. Usikum wanafsih waiyya yabitaqwallah…..Billa hitaufiq  walhidayah………….
Wassalamu’alaikum ww……



































MENANAMKAN JIWA TAQWA KEPADA ANAK-(2)
OLEH ; ASMARDI MISBAH, S.Ag, M.Si

A’u zubillahiminasyaithonirrajiim...
Bismillaahirrahmaanirraahiim...

Assalamu’alaikum Wr.- Wb.-

Alhamdulillah… Alhamdulillahillazi, ‘an askuroo ni’matakallati an’am ta’alaina, wa’ala walidina, wa an a’malaso  lihan tardhohu,  wa adhilni birohmatika fi’iba dikasshoolihiin.

Ashaduallaa ilaa haillallaah,  wahdahu laa sarikalah, wa ashadu anna Muhammadan ‘abduhu warosuluh, la Nabi yaba’dah...!

Allahummasholli‘alaa   sayyidinaa   muhammadin   sholaatan   tuwassi’u   bihaa arzaaq, Watuhassinu bihaa lanal akhlaaq, wa’alaa aalihii washahbihii wa sallim,..
Ammaa ba’du...!
Qolallahuta’ala fil Qur’anulkariim
Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”(QS. At-Tahrim:6)


     Ma’asiral Muslimin wal Muslimat Rahima kumullah, Pendengar RRI Tanjungpiang yang mulia…!

     Sebagai hamba-hamba Allah SWT yang beriman,maka kita diperintah oleh Allah SWT untuk memelihara diri dan keluarga kita dari siksaan api neraka. Menurut tuntunan Agama Islam yang santun usaha yang paling utama dalam mewujudkan harapan termaksud adalah dengan menanamkan pemahaman ilmu agama yang mengarah pada pembentukan mental dan keperibadian yang malu dan takut pada siksaan Allah SWT (jiwa yang taqwa). Keyakinan beragama yang kuat dengan sendirinya akan menjadi  pengendali tindakan dan dan sikap dalam kehidupan sehari-hari yang sekaligus dapat menjadi polisi atau pengawas bagi diri mereka.
     Jika setiap setiap diri kita mempunyai keyakinan, pemahaman dan pengamalan ajaran agama dengan sungguh-sungguh, maka tidaklah perlu adanya pengamanan dalam kehidupan masyarakat, karena setiap diri kita tidak akan melanggar larangan-laranagan agama. Hal ini disebabkan kita merasa bahwa Allah SWT Tuhan yang Maha melihat dan mengetahui segala macam yang kita perbuat.

     Ma’asiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah, Pendengar RRI Tanjungpinang yang berbahagia…!

     Untuk menyelamatkan anak cucu keturunan kita atau generasi muda yang akan datang,maka pembinaan mental harus diperhatikan dan dilaksanakan secara intensif. Upaya untuk menyelamatkan mereka tidaklah ringan. Semua kalangan hendaklah ikut memperhatikan, terutama orang tua, sekolah atau lembaga pendidikan, pimpinan dan yang berwenang di masyarakat, khususnya pemerintah.
     Orang tua hendaklah menjadi contoh dan teladan yang baik dalam segala aspek kehidupan bagi anak-anaknya. Karena anak-anak terutama yang masih kecil yang belum mampu memahami suatu pengertian yang masih abstrak dan tergambar dalam benaknya adalah pengalaman sehari-hari bersama orang tua dan saudara-saudaranya.

     Ma’asiral Muslimin wal Muslimat Rahima kumullah, Pendengar RRI Tanjungpinang yang mulia…!

Demikianlah renungan singkat kita sa’at ini, semoga bermanfa’at dan berdaya guna adanya bagi kita bersama. Aaamii- aaamiin ya mujibas sa ilin. Lebih dan kurang saya mohon ampun dan ma’af. Subha nakallah humma anta wabihamdika astaghfiruka wa atu builaik walhamdulillahirabbil’alamiin. Usikum wanafsih waiyya yabitaqwallah…..Billa hitaufiq  walhidayah………….
Wassalamu’alaikum ww……

MENANAMKAN JIWA TAQWA KEPADA ANAK-(3)
OLEH ; ASMARDI MISBAH, S.Ag, M.Si

A’u zubillahiminasyaithonirrajiim...
Bismillaahirrahmaanirraahiim...

Assalamu’alaikum Wr.- Wb.-

Alhamdulillah… Alhamdulillahillazi, ‘an askuroo ni’matakallati an’am ta’alaina, wa’ala walidina, wa an a’malaso  lihan tardhohu,  wa adhilni birohmatika fi’iba dikasshoolihiin.

Ashaduallaa ilaa haillallaah,  wahdahu laa sarikalah, wa ashadu anna Muhammadan ‘abduhu warosuluh, la Nabi yaba’dah...!

Allahummasholli‘alaa   sayyidinaa   muhammadin   sholaatan   tuwassi’u   bihaa arzaaq, Watuhassinu bihaa lanal akhlaaq, wa’alaa aalihii washahbihii wa sallim,..
Ammaa ba’du...!
Qolallahuta’ala fil Qur’anulkariim...
     Artinya: ”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa”.(QS.Al-Baqarah:177)


     Ma’asiral Muslimin wal Muslimat Rahima kumullah, Pendengar RRI Tanjungpiang yang mulia…!

     Penanaman dasar-dasar taqwa ini harus kita lakukan sejak kecil dengan memberikan contoh dan teladan dari kita sebagai orang tua secara terus menerus dan tetap, serta kita lakukan dengan lemah lembut, tegas sesuai denga pertumbuhan anak kita.
     Sebagai orang tua kita sudah seharusnya memperhatikan pendidikan anak-anak kita, dan pendidikan yang diterima anak dari orang tualah yang akan menjadi dasar dari pembinaan keperibadian anak. Dengan kata lain, orang tua jangan sampai membiarkan pertumbuhan anak berjalan tanpa bimbingan, diserahkan pada pembantu, atau hanya mengharapkan semata-mata dari hasil pendidkan di sekolah saja. Menurut tuntunan syari’at Agama Islam cara yang demikian sangatlah keliru.
     Mari kita pahami firman Allah SWT yang berbunyi:
               Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.(QS. An-Nisa’:9)

Ma’asiral Muslimin wal Muslimat Rahima kumullah, Pendengar RRI Tanjungpinang yang mulia…!

Demikianlah renungan singkat kita sa’at ini, semoga bermanfa’at dan berdaya guna adanya bagi kita bersama. Aaamii- aaamiin ya mujibas sa ilin. Lebih dan kurang saya mohon ampun dan ma’af. Subha nakallah humma anta wabihamdika astaghfiruka wa atu builaik walhamdulillahirabbil’alamiin. Usikum wanafsih waiyya yabitaqwallah…..Billa hitaufiq  walhidayah………….
Wassalamu’alaikum ww……